PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 113 TAHUN 2009 TENTANG SUMEDANG PUSEUR BUDAYA SUNDA (SPBS)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUMEDANG MASA LALU, KINI DAN KE DEPAN (Semua Indah Pada Waktunya)

Kabupaten Sumedang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki luas wilayah 1.522,20 Km2, dengan jarak antar batas wilayah dari Utara-Selatan sejauh 51 Km dan dari arah Barat- Timur sejauh 53 Km. Secara administratif, Kabupaten Sumedang terbagi ke dalam 26 kecamatan, 272 desa dan 7 kelurahan. Jumlah dusun mencapai 917, RW sebanyak 2.075 serta RT sebanyak 7.445.

Posisi geografis Kabupaten Sumedang berada di bagian tengah Provinsi Jawa Barat, dengan batas-batas administratif sebelah Utara : Kabupaten Indramayu, sebelah Timur : Kabupaten Majalengka, sebelah Selatan : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, serta sebelah Barat : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang. Jumlah penduduk Kabupaten Sumedang mencapai 1.133.791 jiwa, dengan Laju Pertumbuhan Penduduk mencapai 3,80 dengan kepadatan 745 orang /km2.

Saat ini Kabupaten Sumedang tengah memperingati hari jadi yang ke 432. Penentuan hari jadi tersebut didasarkan pada waktu dimulainya kepemimpinan Prabu Geusan Ulun sebagai “Narendra” atau Raja Sumedang Larang, yaitu sekitar tahun 1578-1579 M. Dengan kata lain usia Sumedang saat ini sudah mencapai 432 tahun.

Sejarah Singkat Sumedang

Pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sasakala, yaitu kira-kira tanggal 8 Mei 1579 M, ibukota Pakuan Pajajaran jatuh ke tangan tentara Surasowan (Banten) di bawah pimpinan Ki Jungju, yang membawa 500 prajurit berkuda. Takhta-nobat (alas duduk) yang disebut Sriman Sriwacana dibawa ke Banten oleh Ki Jungju. Sampai sekarang ada di Banten dan dikenal sebagai “watu gilang”. Dengan demikian Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi menobatkan rajanya. Dalam berbagai naskah keadaan dimaksud disebut “Pajajaran Burak”, Pajajaran tenggelam untuk tidak muncul lagi.

Dalam suasana bencana di atas munculah seorang Prabu yang menyebut dirinya sebagai “Narendra” wilayah yang membentang antara sungai Cisadane dan Cipamali bekas kerajaan Pajajaran yang belum lama runtuh. Narendra tersebut menamakan dirinya Prabu Geusan Ulun. Prabu Geusan Ulun “memproklamirkan” seluruh bekas wilayah Pajajaran sebagai wilayah kekuasaannya menjadi wilayah kerajaan Sumedang Larang yang bebas merdeka dan berdaulat. Kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Jawa Barat tanpa Banten, Jayakarta dan Cirebon.

Peralihan kerajaan pajajaran menjadi kerajaan Sumedang Larang berlangsung dengan penyerahan sebuah mahkota mas dari raja Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun, mahkota mas tersebut diserahkan oleh Kandaga Lante (saat ini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang). Kandaga Lante adalah semacam kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari Cutak (camat). Mereka adalah Sanghiang Hawu (Jayaperkosa), Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana (Terong Peot).

Ada beberapa periode kepemimpinan di Sumedang yang dapat dijadikan rujukan yang menggambarkan secara gamblang tentang kejayaan, kebesaran dan keluhuran budaya Sumedang, antara lain yang paling monumental ditujukkan pada saat era Prabu Tajimalela, Pangeran Geusan Ulun, Pangeran Kornel, serta Pangeran Aria Suria Atmadja.

· Era Prabu Tajimalela (+ 950 M)

Seorang Raja yang merangkap seorang Resi (Rohaniwan). Terkenal karena pemahamannya terhadap filosofis kenegaraan. Prabu Tajimalela adalah peletak dasar lahirnya Sumedang. Kata Sumedang berawal dari ucapannya yang terkenal yaitu : “Insun Medal Insun Madangan” yang artinya “Aku Lahir Untuk Memberi Penerangan”.

· Era Prabu Geusan Ulun (1579-1610)

Terkenal dengan sistem pemerintahannya yang kuat. Kerajaan Sumedang Larang menjadi penerus Kerajaan Pajajaran. Prabu Geusan Ulun berhasil mengumpulkan kembali rakyat bekas Kerajaan Pajajaran sebanyak 44 kepala rakyat, 26 kandaga lante dan 18 umbul dengan cacah mencapai 9000 umpi. Kekuasaan Sumedang Larang pada periode ini meliputi Seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten, Jayakarta dan Cirebon.

· Era pangeran Kornel (1791-1828)

Terkenal dengan keberaniaannya memprotes Daendels dan keberpihakannya kepada rakyat dalam peristiwa “Cadas Pangeran”. Pada masa kepemimpinannya Sumedang mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang, baik dari segi kewilayahan yang makin luas cakupannya, bidang ekonomi, pertanian, maupun ketertiban dan keamanan. Pangeran Kornel melukiskan tinta emas dalam lembaran sejarah Sumedang.

· Era Pangeran Aria Suria Atmaja (1882-1919)

Pada masa kepemimpinannya sektor pendidikan, pertanian, peternakan, perikanan, pengairan, kehutanan, kesehatan, politik, keuangan, keamanan, keagamaan dan sosial berkembang pesat. Nasionalisme Pangeran Aria Suria Atmaja sangat kuat sebagaimana ditulisnya dalam buku “Ditiung Memeh Hujan”.

Dinamika Pembangunan

Pembangunan di Kabupaten Sumedang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara utuh, baik fisik maupun non fisik. Apabila yang dijadikan indikatornya adalah ketersediaan infrastruktur, khususnya jalan, capaian pembangunan di Kabupaten Sumedang saat ini masih belum optimal. Kondisi infrastruktur jalan di kabupaten tetangga seperti Kabupaten Indramayu, Subang, Garut, Majalengka maupun Bandung, relatif lebih baik. Dari jalan kabupaten yang panjangnya mencapai 796,056 km, sebagian diantaranya yaitu sepanjang 223,35 km dalam kondisi rusak berat dan 131,14 dalam kondisi rusak ringan.

Tetapi apabila yang dijadikan indikator utamanya adalah pembangunan manusia, maka Kabupaten Sumedang boleh berbangga diri, karena capaian Indeks Pembangunan Manusianya (IPM) menembus angka 72,26 atau berada di atas rata-rata Jawa Barat yang saat ini baru mencapai 71,12. Kabupaten Sumedang berada di urutan 12 dari 26 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Capaian tersebut jauh meninggalkan kabupaten tetangga.

Sumber: BPS Kab. Sumedang dan Bappeda Jabar

Dari perspektif indikator ekonomi makro daerah, pembangunan di Kabupaten Sumedang menunjukkan dinamika dan prospek yang cukup baik. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan pada tahun 2008 mencapai Rp. 5.136.819.720.000. Berdasarkan data dari tahun 2004 sampai dengan 2008, nilai PDRB Kabupaten Sumedang atas dasar harga konstan setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kontribusi yang paling besar berasal dari sektor lapangan usaha pertanian, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri pengolahan. Capaian PDRB tahun 2009 maupun 2010 diproyeksikan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Sumedang tahun 2008 mencapai 4,58 %. Menempati urutan ke lima setelah Kabupaten Bandung (5,32 %), Indramayu (5,08 %), Subang (4,70 %) dan Garut (4,69 %). LPE Sumedang masih diatas Majalengka yang baru mencapai 4,57 %. Sedangkan untuk tingkat inflasi kecenderungan setiap tahunnya mengalami penurunan, pada tahun 2010 diproyeksikan 8,4 % atau menurun dari capaian tahun 2009 sebesar 8,6 % dan tahun 2008 sebesar 9,03 %.

Tingkat kemiskinan di Kabupaten Sumedang pada tahun 2008 mencapai 15,08 %, pada tahun 2009 maupun tahun 2010 diperkirakan mengalami penurunan walaupun angkanya diproyeksikan masih dikisaran 15 %. Demikian juga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun yang sama diperkirakan mengalami penurunan tetapi masih dikisaran 9 %. Sementara itu untuk pendapatan per kapita Kabupaten Sumedang relatif cukup baik yaitu sebesar Rp. 9.537.953,83, capaian tersebut menempati urutan kedua setelah Kabupaten Bandung dan masih di lebih tinggi dibanding kabupaten Subang, Garut, Indramayu dan Majalengka.

Besaran investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Kabupaten Sumedang selama periode 2003-2007 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari tahun 2003 sebesar Rp.940.568.660.000 menjadi sebesar Rp.1.537.507.590.000 pada tahun 2007 atau mengalami peningkatan rata-rata 12,42 % setiap tahunnya. Untuk tahun 2008 besaran investasi mencapai Rp. 1.752.533.620.000, sedangkan capaian tahun 2009 maupun 2010 diproyeksikan mengalami peningkatan yang mengesankan.

No

Indikator

Capaian

Tahun 2008

Estimasi 2009

Proyeksi 2010

1.

PDRB Harga Konstan (dalam juta Rp)

5.136.819,72

5.329.173,00

5.534.839,00

2.

Tingkat Pertumbuhan Ekonomi

4,58 %

4,72 %

4,79%

3.

Tingkat inflasi (implisit)

9,03 %

8,6 %

8,4%

4.

Tingkat Kemiskinan

15,08 %

Kisaran 15 %

Kisaran 15 %

5.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

9,68%

Kisaran 9 %

Kisaran 9 %

6.

Pendapatan Perkapita (Rp)

9.537.953,83

10.398.683,20

11.313.066,40

7.

Kemampuan Investasi / PMTB (dalam juta Rp)

1.752.533,62

1.899.146,20

2.064.746,90

Sumber: BPS Kab. Sumedang, Bappeda Kab. Sumedang dan Bappeda Jabar

Spirit Sumedang Puseur Budaya Sunda

Perkembangan Kabupaten Sumedang ke depan akan dipengaruhi oleh lingkungan strategis sebagai dampak dari pembangunan Waduk Jatigede, Jalan Tol Cisumdawu, pengembangan Kawasan Perkotaan Jatinangor dalam koridor Bandung Metropolitan Area, serta pembangunan Bandara Udara Kertajati. Di sisi lain juga akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan global pasca ditetapkannya Asean China Free Trade Agreement (ACFTA). Apakah Kabupaten Sumedang akan menjadi subjek pembangunan dan menjadi penerima manfaat utama dari dinamika tersebut, atau justru sebaliknya akan tergantung pada strategi pembangunan serta komitmen segenap komponen daerah.

Untuk mengantisipasi turbulensi lingkungan strategis, saat ini Kabupaten Sumedang tengah menyiapkan strategi pembangunan berbasis budaya Sunda yang secara kongkrit telah dituangkan dalam Peraturan Bupati Sumedang Nomor 113 Tahun 2009 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS). Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya Sunda dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Sedangkan tujuannya adalah untuk memperkokoh jati diri aparatur pemerintahan daerah dan masyarakat serta menguatkan daya saing daerah menuju terwujudnya Kabupaten Sumedang Sejahtera, Agamis dan Demokratis (Sumedang SEHATI).

Melalui pembangunan berbasis budaya diharapkan akan terjadi penguatan harkat dan martabat manusia dalam proses pembangunan, akan lebih mencerahkan serta lebih berkeadilan dan manusiawi. Tolok ukur keberhasilan dari pembangunan berbasis budaya ini tidak hanya dilihat dari kecukupan material belaka, tetapi oleh eksistensi dan menguatnya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dalam kehidupan. Budaya gotong royong misalnya, melalui spirit SPBS diharapkan akan lebih berkembang dan menjadi benteng utama bagi Kabupaten Sumedang untuk menjinakkan arus globalisasi maupun kapitalisme global.

Kegiatan pembangunan berbasis budaya yang tengah dan akan digulirkan di Kabupaten Sumedang antara lain adalah : pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya Sunda; pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara Sunda; pengembangan pelayanan publik berbasis budaya Sunda; pengembangan muatan lokal berbasis budaya Sunda; pengembangan prilaku hidup bersih dan sehat berbasis budaya Sunda; pengembangan usaha ekonomi kreatif berbasis budaya Sunda; penanggulangan kemiskinan melalui pendekatan budaya Sunda; pengembangan desa budaya gotong royong dalam bidang infrastruktur; pembangunan pusat pemerintahan berbasis budaya Sunda; pengembangan Kawasan Perkotaan Jatinangor berbasis budaya Iptek; pengelolaan kepurbakalaan, kesejarahan, nilai tradisional dan museum; pengembangan kawasan ekowisata dan kampung Sunda; penantaan alun-alun Sumedang dan jalan Prabu Geusan Ulun berbasis budaya dan kreativitas (menjadi Malioboronya Sumedang), serta kegiatan lainnya yang bernuansa budaya.

Dalam persfektif perencanaan pembangunan, pengembangan spirit SPBS tersebut merupakan suplemen bagi akselerasi pencapaian visi dan misi RPJPD maupun RPJMD Kabupaten Sumedang. Sementara dalam tinjauan implementasi pembangunan, spirit SPBS diharapkan dapat memaduserasikan “logika pemerintahan” yang mengedepankan kalkulasi matematis yang terukur dengan “hati pemerintahan” yang mengutamakan empati dan imajinasi. Apabila semua komponen daerah konsisten dan konsekuen mengawal proses pembangunan berbasis budaya tersebut, maka apa yang pernah dilontarkan oleh Wijnand Kerkhoff bahwa Sumedang adalah Paradijs van Java (surga dari Jawa) bukan hanya sebatas kebanggaan masa lalu, tetapi sebuah keniscayaan di masa depan. Malati lingsir ku wanci, campaka ligar ku mangsa. Insyaalloh semua akan indah pada waktunya, dirgahayu Sumedang …

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUMEDANG RIWAYATMU NANTI

Di hari jadi Sumedang ke 432 tahun 2010 ini tidak ada salahnya kita merenung sambil mereka-reka, kelak 5 tahun ke depan Sumedang akan seperti apa. Di tengah hiruk pikuk mega proyek jalan tol Cisumdawu, waduk Jatigede, bandar udara Kertajati, maupun kawasan Bandung metropolitan, apakah masyarakat Sumedang akan menjadi pecundang alias penonton yang baik di tengah dinamika pembangunan lintas daerah, atau akan menjadi pemenang alias pelaku utama yang mendapatkan kemanfaatan dari pesatnya pelaksanaan pembangunan tersebut ? jawabannya relatif, tergantung komponen daerah di Sumedang sendiri bagaimana mensikapinya hari ini.

Ada pepatah bijak mengatakan, bahwa cara terbaik meramal masa depan adalah dengan menciptakannya hari ini. Apabila komponen daerah di Sumedang hari ini bersantai ria, maka hasilnya nanti di masa depan tidak akan jauh dari lingkaran kemiskinan yaitu menjadi kuli di rumah sendiri. Namun sebaliknya apabila segenap komponen daerah hari ini bekerja keras, maka hasilnya kelak besar kemungkinan kita akan menjadi pemimpin yang baik di berbagai bidang kehidupan. Artinya adalah, riwayat Sumedang nanti sangat tergantung dari Sumedang hari ini.

Di bidang ekonomi contohnya, Sumedang hari ini sejatinya bisa “mencuri” kesempatan dari pesatnya pertumbuhan industri kreatif di Kota Bandung yang setiap tahunnya mencapai 15 % dengan omset bulanannya menembus 76 miliar rupiah, serta mampu menyerap 650.000 tenaga kerja. Dengan tekad dan upaya yang mantap, kita sebenarnya dapat mengambil perhatian para pelancong yang haus suasana kreatif di Kota Bandung untuk singgah ke Sumedang. Apabila menyimak analisis statistik ekonomi, beberapa tahun ke depan kemungkinan industri kreatif di Bandung mangalami kejenuhan dan tentunya akan membutuhkan alternatif pengembangan. Pertanyaannya kemudian, apakah alternatif pengembangannya ke Sumedang atau kabupaten lain ? Secara geoekonomi, Sumedang sangat potensial menjadi kabupaten penyangga utama pengembangan industri kreatif dalam bingkai poros Jakarta-Bandung-Cirebon. Tetapi realitanya lagi-lagi akan terpulang pada Sumedang sendiri. Apakah pemerintah Kabupaten Sumedang punya kapasitas untuk proaktif menyiapkan ruang dan regulasi yang kondusif bagi pengembangan industri kreatif ? apakah masyarakat Sumedang mau berupaya keras meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini ? apakah sektor swasta di Sumedang cukup jeli menangkap berbagai peluang ekonomi kreatif yang dinamis ?

Sekedar sumbang saran sebagai wujud kecintaan terhadap Sumedang, penulis merekomendasikan beberapa hal : Pertama, Sumedang harus mampu membangun brand image terlebih dahulu, bahwa Sumedang bukan hanya identik dengan tahu, tapi Sumedang identik dengan budaya Pasundan yang adi luhung yang di dalamnya terdapat berbagai keragaman hasil daya cipta dan karya masyarakat. Sumedang Puseur Budaya Pasundan harus menjadi “sabiwir hiji”. Hal ini sangat relevan apabila ditautkan dengan kekayaan historis budaya Sumedang sebagai pelanjut kebesaran dan keagungan Pajajaran. Sejarah Sumedang pada hakekatnya adalah sejarah Pajajaran, sejarah Jawa Barat atau Pasundan. Ranah industri kreatif adalah kekayaan budaya daerah.

Kedua, Sumedang harus berani menegakkan pilar-pilar dasar bagi tumbuh kembangnya industri kreatif, yaitu 3T (Teknologi, Talenta dan Toleransi). Teknologi, Sumedang harus memacu pengembangan dan pelarutan teknologi di berbagai lapisan sosial, khususnya pada sektor publik dan bisnis. Talenta, Sumedang harus menggali dan mengembangkan talenta individu masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Toleransi, Sumedang harus arif dan bijaksana untuk memberikan ruang yang proporsional bagi tumbuh kembangnya kreatifitas dan gagasan “nyeleneh”. Industri kreatif adalah industri yang berbasis pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Dari mana memulainya ? kita mulai dari diri kita masing-masing. Idealnya memang “dibalakan heula” oleh aparatur pemerintah daerah. Ngamumule seni tradisi dan budaya Sumedang, banyak belajar dan bersentuhan dengan teknologi, mengasah talenta, toleran terhadap kreatifitas dan perubahan, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan adalah langkah nyata yang bisa kita lakukan sekarang juga !

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment