SUMEDANG RIWAYATMU NANTI

Di hari jadi Sumedang ke 432 tahun 2010 ini tidak ada salahnya kita merenung sambil mereka-reka, kelak 5 tahun ke depan Sumedang akan seperti apa. Di tengah hiruk pikuk mega proyek jalan tol Cisumdawu, waduk Jatigede, bandar udara Kertajati, maupun kawasan Bandung metropolitan, apakah masyarakat Sumedang akan menjadi pecundang alias penonton yang baik di tengah dinamika pembangunan lintas daerah, atau akan menjadi pemenang alias pelaku utama yang mendapatkan kemanfaatan dari pesatnya pelaksanaan pembangunan tersebut ? jawabannya relatif, tergantung komponen daerah di Sumedang sendiri bagaimana mensikapinya hari ini.

Ada pepatah bijak mengatakan, bahwa cara terbaik meramal masa depan adalah dengan menciptakannya hari ini. Apabila komponen daerah di Sumedang hari ini bersantai ria, maka hasilnya nanti di masa depan tidak akan jauh dari lingkaran kemiskinan yaitu menjadi kuli di rumah sendiri. Namun sebaliknya apabila segenap komponen daerah hari ini bekerja keras, maka hasilnya kelak besar kemungkinan kita akan menjadi pemimpin yang baik di berbagai bidang kehidupan. Artinya adalah, riwayat Sumedang nanti sangat tergantung dari Sumedang hari ini.

Di bidang ekonomi contohnya, Sumedang hari ini sejatinya bisa “mencuri” kesempatan dari pesatnya pertumbuhan industri kreatif di Kota Bandung yang setiap tahunnya mencapai 15 % dengan omset bulanannya menembus 76 miliar rupiah, serta mampu menyerap 650.000 tenaga kerja. Dengan tekad dan upaya yang mantap, kita sebenarnya dapat mengambil perhatian para pelancong yang haus suasana kreatif di Kota Bandung untuk singgah ke Sumedang. Apabila menyimak analisis statistik ekonomi, beberapa tahun ke depan kemungkinan industri kreatif di Bandung mangalami kejenuhan dan tentunya akan membutuhkan alternatif pengembangan. Pertanyaannya kemudian, apakah alternatif pengembangannya ke Sumedang atau kabupaten lain ? Secara geoekonomi, Sumedang sangat potensial menjadi kabupaten penyangga utama pengembangan industri kreatif dalam bingkai poros Jakarta-Bandung-Cirebon. Tetapi realitanya lagi-lagi akan terpulang pada Sumedang sendiri. Apakah pemerintah Kabupaten Sumedang punya kapasitas untuk proaktif menyiapkan ruang dan regulasi yang kondusif bagi pengembangan industri kreatif ? apakah masyarakat Sumedang mau berupaya keras meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini ? apakah sektor swasta di Sumedang cukup jeli menangkap berbagai peluang ekonomi kreatif yang dinamis ?

Sekedar sumbang saran sebagai wujud kecintaan terhadap Sumedang, penulis merekomendasikan beberapa hal : Pertama, Sumedang harus mampu membangun brand image terlebih dahulu, bahwa Sumedang bukan hanya identik dengan tahu, tapi Sumedang identik dengan budaya Pasundan yang adi luhung yang di dalamnya terdapat berbagai keragaman hasil daya cipta dan karya masyarakat. Sumedang Puseur Budaya Pasundan harus menjadi “sabiwir hiji”. Hal ini sangat relevan apabila ditautkan dengan kekayaan historis budaya Sumedang sebagai pelanjut kebesaran dan keagungan Pajajaran. Sejarah Sumedang pada hakekatnya adalah sejarah Pajajaran, sejarah Jawa Barat atau Pasundan. Ranah industri kreatif adalah kekayaan budaya daerah.

Kedua, Sumedang harus berani menegakkan pilar-pilar dasar bagi tumbuh kembangnya industri kreatif, yaitu 3T (Teknologi, Talenta dan Toleransi). Teknologi, Sumedang harus memacu pengembangan dan pelarutan teknologi di berbagai lapisan sosial, khususnya pada sektor publik dan bisnis. Talenta, Sumedang harus menggali dan mengembangkan talenta individu masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Toleransi, Sumedang harus arif dan bijaksana untuk memberikan ruang yang proporsional bagi tumbuh kembangnya kreatifitas dan gagasan “nyeleneh”. Industri kreatif adalah industri yang berbasis pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Dari mana memulainya ? kita mulai dari diri kita masing-masing. Idealnya memang “dibalakan heula” oleh aparatur pemerintah daerah. Ngamumule seni tradisi dan budaya Sumedang, banyak belajar dan bersentuhan dengan teknologi, mengasah talenta, toleran terhadap kreatifitas dan perubahan, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan adalah langkah nyata yang bisa kita lakukan sekarang juga !

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s